PASAMAN BARAT – Dua bulan pascabencana longsor yang melanda Kampuang Pasanggiang, Nagari Talu, Kecamatan Talamau, duka mendalam masih menyelimuti warga setempat. Sekitar 5 hektare sawah produktif yang menjadi tumpuan hidup masyarakat kini rata tertimbun material longsor, memutus sumber ekonomi warga secara permanen.
Material tanah dan bebatuan yang terbawa air tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga mengubah struktur tanah hingga tidak memungkinkan lagi untuk dijadikan areal persawahan. Kondisi ini membuat 12 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 40 jiwa kehilangan mata pencaharian utama mereka.
Penyuluh Kementerian Pertanian, Weldia Putra, SP, mengungkapkan bahwa dampak ekonomi dari musibah ini sangat memprihatinkan. Dari hasil perhitungan, potensi kerugian petani mencapai Rp300 juta per tahun, asumsi dari dua kali masa tanam yang kini mustahil dilakukan.
“Sebanyak 12 KK kehilangan total areal persawahan mereka. Lahan tersebut sudah tidak bisa diolah kembali. Ini bukan sekadar kerusakan fisik, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat ke depan,” ungkap Weldia Putra dengan nada prihatin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, pihak penyuluh telah menghimpun data kerusakan secara menyeluruh untuk disampaikan kepada dinas terkait di tingkat kabupaten. Harapannya, pemerintah daerah segera merumuskan langkah penanganan pascabencana yang terpadu, mengingat para petani memerlukan solusi alternatif mata pencaharian secepatnya.
Warga Pasanggiang kini hanya bisa menggantungkan harapan pada kebijakan pemerintah, baik melalui penyediaan lahan alternatif maupun program pemulihan ekonomi berbasis potensi lokal, agar mereka bisa kembali bangkit dari keterpurukan ekonomi.
Penulis : Syafril Erizon
Editor : Ajo Uban









