PASAMAN BARAT, SUMBAR.NEWSLINE.id – Puluhan dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, menggelar aksi mogok kerja. Aksi ini dipicu oleh tuntutan para dokter agar pembayaran insentif mereka segera direalisasikan oleh pihak manajemen dan pemerintah daerah. Akibat aksi mogok ini, operasional pelayanan medis spesialis di rumah sakit tersebut mengalami kelumpuhan.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada pagi, Rabu (3/6/2026), suasana di loket pendaftaran tampak dipadati oleh puluhan pasien yang membawa surat rujukan dari berbagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Namun, pendaftaran untuk layanan dokter spesialis tidak dapat diproses karena ketiadaan tenaga medis yang bersangkutan.

Menurut keterangan dari salah seorang petugas pendaftaran, Lenggogenni, situasi tersebut membuat loket tidak dapat melayani pendaftaran untuk poli spesialis. Ia menjelaskan bahwa saat ini satu-satunya layanan yang tetap berjalan dan bisa menerima pasien hanyalah poli gigi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Upaya konfirmasi telah dilakukan oleh awak media di lingkungan RSUD Pasaman Barat. Namun, jajaran manajemen mulai dari tingkat pimpinan, Kepala Tata Usaha (KTU), hingga Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan enggan memberikan keterangan resmi terkait pemogokan ini.

Pihak manajemen menyatakan tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut kepada media dengan alasan bahwa seluruh keterangan dan kronologi permasalahan telah disampaikan langsung kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasaman Barat selaku pihak penanggung jawab.
Penghentian layanan ini berdampak langsung pada pasien rawat jalan, terutama kelompok lanjut usia (lansia) dari wilayah pelosok yang sangat bergantung pada pemantauan medis dan obat-obatan rutin. Kekecewaan mendalam terlihat di area ruang tunggu loket ketika puluhan warga yang datang dari jauh terpaksa gigit jari.
Salah satunya adalah Ibu Ros (68), warga Siduampan, Silaping, yang berniat berobat ke Poli Mata. Ia mengaku sangat kecewa karena sudah mengorbankan waktu untuk tiba sejak pagi hari, namun harus pulang tanpa ada kepastian kapan operasional rumah sakit akan kembali normal.
“Saya sangat kecewa sekali. Sudah datang dari pagi-pagi buta supaya bisa cepat dapat pelayanan, ternyata sampai di sini malah harus pulang lagi. Kami tidak tahu kapan pelayanan ini akan dibuka kembali,” ujar Ibu Ros dengan nada kecewa.

Kondisi serupa dialami oleh Nur (75), pasien asal Parit, Koto Balingka, yang menderita penyakit dalam. Berbekal surat rujukan dari Puskesmas setempat, Nur harus menempuh perjalanan yang cukup jauh menuju RSUD Pasaman Barat, hanya untuk mendapati pintu pelayanan dalam keadaan tertutup.
“Kami ini datang dari jauh ke RSUD karena mendapat rujukan dari Puskesmas. Sampai di sini, ternyata layanannya tutup,” keluh Nur yang mengaku sama sekali tidak tahu-menahu mengenai adanya aksi mogok kerja tersebut.
Dampak yang lebih mengkhawatirkan dirasakan oleh salah seorang pasien spesialis penyakit dalam asal Simpang Tigo, yang persediaan obat rutinnya habis tepat pada hari kejadian. Bagi pasien dengan penyakit kronis, ketiadaan dokter spesialis berarti ia tidak bisa mendapatkan resep baru untuk kebutuhan obat esok hari. Mandeknya pelayanan ini menimbulkan risiko medis yang cukup besar karena berpotensi memutus keberlanjutan konsumsi obat yang sangat krusial bagi proses penyembuhannya.
“Hari ini obat saya habis dan harus mendapatkan resep baru dari dokter untuk diminum besok. Kalau layanannya seperti ini, saya jelas kecewa karena tidak bisa dapat obat,” tutur pasien tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah konkret atau pernyataan resmi dari Pemkab Pasaman Barat terkait solusi penyelesaian guna memulihkan kembali hak pelayanan kesehatan masyarakat yang tertunda.***
Penulis : Syafril Erizon
Editor : Ajo Uban









