LIMA PULUH KOTA, SUMBAR.NEWSLINE.ID – Fenomena kemunculan lubang raksasa atau sinkhole di tengah sawah warga Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, kini memicu kekhawatiran baru. Hal ini terjadi setelah warga setempat ramai mendatangi lokasi untuk mengambil air yang tergenang di dalam lubang tersebut. Menanggapi fenomena ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan keras bahwa air tersebut tidak boleh langsung dikonsumsi karena alasan keamanan dan kesehatan.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menegaskan bahwa kualitas air dari dalam sinkhole sangat bergantung pada analisis kimia dan biologi yang mendalam. Adrin mengingatkan bahwa air tersebut harus melewati pengujian ketat sebelum dinyatakan layak sesuai standar Peraturan Menteri Kesehatan.
“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” tegas Adrin Tohari.
Menurut penjelasan sains dari BRIN, sinkhole terbentuk akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah dalam waktu yang sangat lama. Proses ini dipicu oleh air hujan bersifat asam yang menyerap karbon dioksida dari udara dan tanah. Air tersebut meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, hingga membentuk rongga-rongga besar di bawah permukaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seiring waktu, air permukaan dan air tanah yang mengalir melalui rekahan tersebut menyebabkan rongga semakin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya.
“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” jelas Adrin.
Salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal secara visual karena proses pembentukan rongga berlangsung di bawah permukaan tanah. Namun, BRIN menyatakan bahwa keberadaan rongga dapat diidentifikasi melalui survei geofisika seperti metode georadar dan geolistrik.
Sebagai solusi teknis untuk mencegah pembentukan sinkhole lebih lanjut, BRIN menyarankan metode cement grouting. Metode ini dilakukan dengan menginjeksi semen, mortar, atau bahan kimia tertentu menggunakan pompa bertekanan untuk mengisi rongga di lapisan bawah permukaan guna memastikan stabilitas lapisan batuan meningkat kembali. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memanfaatkan kajian geologi sebagai dasar perencanaan tata ruang di wilayah rawan bencana.***
Penulis : Syafril Erizon
Editor : Ajo Uban









